Life of 3.14159265359

Maybe Richard Parker can't be tamed, but with God's will, he can be trained.

***

I suppose, in the end, the whole of life becomes an act of letting go. But what always
hurts the most... is not taking a moment to say goodbye. I was never able to thank my
father for all I learned from him. To tell him, without his lessons...I would never have survived. I know Richard Parker is a tiger, but I wish I had said...
"It's over.
We survived."
"Thank you for saving my life.
I love you, Richard Parker."
"You will always
be with me."
"May God be with you."
 

 ***
Keren ya? saya selalu suka mengkoleksi cuplikan kata-kata dari filem-filem yang sudah pernah saya tonton. Tidak selalu menggambarkan suasana hati saya sih, tapi semua hal yang thoughtfull akan selalu menarik perhatian saya.

Iron Lady

Berhati-hatilah dengan pikiranmu,
karena itu akan menjadi ucapanmu.
Berhati-hatilah dengan ucapanmu,
karena itu akan menjadi tindakanmu.
Berhati-hatilah dengan tindakanmu,
karena itu akan menjadi kebiasaanmu.
Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu,
karena itu akan menjadi karaktermu.
Berhati-hatilah dengan karaktermu,
karena itu akan menjadi tujuan hidupmu.
Apa yang kita pikirkan, itulah apa jadinya kita.
Ayahku selalu mengatakan itu.
- Margaret, Iron Lady, 2011


Dulu, jaman kuliah dan aktif di komputer klub, hampir semua buku-buku pengembangan kepribadian menuliskan baris-baris di atas. Saya langsung ingat ketika Margaret mengucapkan baris pertamanya, meski ditulis dalam bahasa inggris.

Twitter dan blog, atau sebutlah media sosial lainnya, tempat dimana kita bisa mengungkapkan isi hati kita, mengungkapkan pikiran kita, atau sekedar berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sosial diri kita sendiri. Banyak alasan kita melakukan hal itu, sore ini saya ingin mencermati salah satu alasannya saja, yaitu, harapan kita untuk dimengerti oleh orang lain menjadi lebih besar.

Sialnya, ketika apa yang kita sampaikan di media sosial itu kemudian dianggap sebagai nilai kebenaran. Ungkapan pikiran di media sosial, yang seharusnya menjadi pembantu supaya kita bisa lebih memahami orang yang bersangkutan, ternyata kenyataan aslinya tidak begitu.

Lalu saya ingat pada hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Nah, ketika kita berinteraksi di media sosial, energi apakah yang kita kirimkan?

saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa kebijaksanaan adalah seni mengolah energi. orang yang bijaksana mampu mengubah, katakanlah input negatif dari orang lain entah itu berupa rasa marah, benci, atau apapun itu, kemudian menjadi energi netral, sukur-sukur energi positif.

Oh. tulisan saya yang ini jangan dianggap serius, karena saya sedang kelaparan :))



Our deepest fear

"Our deepest fear
is not that we are inadequate.

Our deepest fear is that
we are powerful beyond measure.

It is our light, not our darkness
that most frightens us.

Your playing small
does not serve the world.

There is nothing enlightened
about shrinking...

so that other people
won't feel insecure around you.

We were all meant to shine,
as children do.

It is not just in some of us,
it is in everyone.

And as we let our own light shine...
we unconsciously give other people
permission to do the same.

As we are liberated
from our own fear...

our presence automatically
liberates others."


taken from coach carter (2005)