May 31, 2005

 
tanya, bertanyalah?
jadi terinspirasi buat nulis tentang bertanya. Ya, bertanya, alias mengajukan pertanyaan. Buat yang belum tau, mungkin nggak tau ya, kalo aku nih orang yang paling suka mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh. Dan setelah kejadian siang ini, aku jadi pengen banget nulis tentang kebiasaanku bertanya ini.

memoriku yang pas-pasan ini, kembali menginat masa-masa di sekolah dulu, mulai dari tk, sd, smp, smu, dan yang barusan kelar ya kuliah. Totalnya 17,5 tahun sudah hidupku belajar secara formal di institusi pendidikan, 14 tahun disebut sekolah, dan 3,5 tahun terakhir disebut kuliah. Aku nggak ingat pasti, kapan aku jadi malu dan takut buat bertanya di dalam kelas. Percaya nggak percaya, di benakku ini ada pendapat bahwa selama masa sekolah, yang bertanya di dalam kelas itu adalah orang yang bodoh, dan selama kuliah orang yang bertanya di dalam kelas itu adalah orang yang gila belajar, alias rajin, alias sok rajin di mata orang-orang yang duduknya di bagian belakang pada saat kuliah berlangsung.

aku jadi heran juga, kok dari sekolah, trus ke kuliah, bisa terjadi loncatan paradigma tentang bertanya ya? yah, gara-gara paradigma yang tanpa aku sadari aku pupuk tiap hari selama sekolah itulah, aku jadi nggak nyaman belajar di sekolah. Sekarang sih aku berkesimpulan bahwa pembunuhan karakter yang sebenarnya ada di bangsa ini justru ada di bangku-bangku sekolah. Oke, kita mundur dulu, mungkin itu cuman paradigma milikku saja, bahwa saat sekolah yang bertanya adalah orang yang bodoh, dan saat kuliah orang yang bertanya adalah orang yang gila belajar, alias rajin, alias sok rajin di mata orang-orang yang duduknya di bagian belakang pada saat kuliah berlangsung. Dan kesimpulan bahwa pembunuhan karakter sebenarnya itu ada di bangku-bangku sekolah, itu hanya kesimpulan pribadiku sendiri, berdasarkan pengamatan diriku sendiri tentang diriku sendiri, jadi aku subjek sekaligus objek pengamatan. Sayang sekali aku tak dapat menggunakan metode dan menarik kesimpulan secara ilmiah.

Iya, rasanya memang begitu, mungkin selama 14 tahun itu, pertanyaan yang aku ajukan di dalam kelas itu bisa dihitung dengan jari. Hahaha...aku yakin tuh bisa diitung dengan jari, sebelah jari juga bisa, tapi berapa kali repetisi aku kurang tau pasti. Intinya sih pertanyaan yang aku ajukan itu sedikit. Karena ya itu, napsu belajarku dibikin impoten dan semangat belajarku mengalami ejakulasi dini. Selama 17,5 tahun itu, sangat minim sekali hal-hal yang masih aku sadari, bahwa itu aku dapet dari bangku pendidikan. Oke lah, aku bisa baca-tulis, aku tau kalo barang jatuh itu pasti kebawah, aku tau kalo matahari itu terbit di timur dan tenggelam di barat. Tapi begitu aku tanya lagi lebih jauh, seberapa lihai sih aku nulis? Utara-timur-selatanpun aku masih buta kalau aku ada di tempat baru. Aku bisa menikmati masa-masa sendiri memandang bintang, tapi aku nggak tau itu rasi bintang apa. Mungkin secara nonformal di institusi yang formal itu, harusnya aku pernah belajar bagaimana caranya mengikat, iya mengikat tali atau apapun kek. Tiap kali aku mau ngikat sesuatu, pikiran ini harus bekerja dulu "hm...kira-kira metode ngikat yang bagus gimanaa ya..." dan akhirnya aku terlalu asuk dengan pemikiran-pemikiranku itu, dan keharusanku mengikat, kulupakan, atau kadang tertunda lama.

yang paling parah, aku sempat membesarkan paradigma yang salah tentang belajar. Bahwa belajar itu adalah untuk menjawab soal di sekolah pada saat ada PR, saat ditanya guru, atau pada saat ulangan, atau ujian akhir. Jadi esensi belajar menurut paradigmaku yang lama itu, adalah menakutkan, keharusan, paksaan, dan kemaluan. Iya, kemaluan, karena saat aku tidak mengerjakan pr, aku dihukum di depan teman-teman. Saat ditanya guru dan aku tidak bisa menjawab, aku ditertawai teman-teman sekelas. Saat ulangan dan nilaiku jelek, si guru dan teman-teman sekelasku itu memandang sebelah mata, seolah olah mereka bilang "percuma kamu sekolah" atau "makanya jadi anak jangan nakalll..." Saat ujian akhir dan nilai totalnya rendah, maka aku jadi individu yang tersingkir dari gemerlapnya kehidupan orang-orang populer 10 besar di kelas. Yah, semua itu bermuara pada kemaluan. Rasanya malu sekali, menjadi diriku itu.

Belum lagi masalah sikap, rambut panjang sedikit di jambak oleh si guru, kuku panjang sedikit dipukul pake penggaris kayu, nggak bawa buku dipukul pahaku pake rotan. Yah, aku pikir-pikir lagi, kejam sekali guru-guruku saat SD dulu. Saat SMP, selain hukuman batin oleh dari setiap individu guru, plus guru BP. Hukuman batin dari tiap individu guru itu cakupannya masih terbatas, satu kelas aja, mungkin bisa tersebar ke kelas-kelas lain kalau kita itu masuk orang populer, yah aku dulu populer karena nakal. Tapi kalau si guru BP sudah manggil, nah ini dia, cakupannya jadi sedikit lebih luas, minimal satu angkatan bakalan tau. Sebabnya tuh macam gini loh, rambut di semir, bawa motor atau mobil ke sekolah padahal belum punya sim, bawa hp ke sekolah, atau ngerokok. Tapi kalo udah di skors beberapa hari-minggu sama si guru BP ini, nahh ini paling tinggi nih, satu sekolah! macam bawa obat teler kesekolah, berkelahi, atau tawuran.

Dari SD dan SMP yang kayak begitu itu, masuk ke smu yang penuh kebebasan tapi bertanggung jawab. Anak-anaknya dididik dengan semangat 'to be man for others', dituntut untuk selalu berpikir kritis. Yah, maklum sekolah laki semua, makin dihukum kita, bisa jadi makin terkenal di satu angkatan, yang efeknya bakalan merembet ke satu angkatan tapi di sekolah lain, yang muridnya perempuan semua, atinya, popularitas, sama dengan gampang cari gebetan, gampang cari pacar, mau gonta-ganti pacar juga nggak susah. Yah, aku sempat menikmati masa-masa penuh hukuman itu, justru semangat 'to be man for others' dan kebebasan yang bertanggung jawab itu diasah melalui hukuman-hukuman yang aku dapat. Hampir nggak ada pelajaran formal yang aku pahami dan aku terapkan dalam kehidupanku pada saat itu. Aku masih malu untuk bertanya. Kala aku mengajukan pertanyaan, dan anak-anak sekelas memandangku, karena aku dikenal tidak bernapsu akan pelajaran, mulailah deguban jatungku yang keras itu, diiringi dengan naiknya adrenalin, perasaan ini sama seperti saat aku mengendarai motorku kencang sekali dan hampir jatuh atau hampir nabrak. Nada suara tegangku dan adrenalinku baru turun, sekian menit setelah aku bertanya. Lucu ya?

Tapi aku masih kurang bisa memahami sepenuhnya apa itu berpikir kritis. cuman kata berpikir saja yang melekat kuat di benakku. Akibatnya, aku sampai sekarang nggak tau ini baik atau buruk, tapi aku jadi kebanyakan mikir. Kadang mikirin yang enggak-enggak, kadang mikir yang seharusnya nggak usah dipikirin.

Dunia kuliah lain sekali, aku sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan orang-orang disekitarku. Sebagian dengan senang hati menjawab, dan dengan hati yang terbuka menerima bantuan. Sebagian lagi sama sekali tidak ingin terbuka tentang kehidupan pribadinya dan mengecap aku ini terlalu ingin ikut campur dalam kehidupan setiap orang. Yah, maklum 14 tahun terbelenggu dalam ketakutan bertanya, lalu aku ada pada posisi yang memang informasi itu penting sekali. Seolah-olah, napsuku tersalurkan di jalan tol, tersalurkan dengan bebas, tanpa macet!

Sampai aku juga menemukan napsuku kuat sekali terhadap buku. Yah, aku bernapsu sekali dalam membeli buku. Baca, mungkin nanti, tapi beli seolah-olah lebih penting dari sandang-papan-pangan. Dan mulailah perjalanan intelektualku, meskipun masih merangkak, belum berjalan, apalagi berlari. Malahan lebih sering berisitirahat, daripada bergerak maju. Aku menyadari banyak hal, dan semakin banyak lagi saat aku menuliskannya, dan membaginya ke orang lain. Entah orang itu memang ingin mendengarkan, atau karena kebiasaanku yang keasikan berbicara sendiri di depan mereka.

Sampai kejadian siang tadi, aku bertanya-tanya tentang pajak. Aku dapat jawaban semua yang aku mau, sampai 2 kejadian kecil yang membawaku untuk menuliskan hal ini. Kejadian yang pertama adalah statement "Ini pertanyaan terakhir tentang tax ya.." dan yang kedua adalah kejadian di mana pertanyaanku itu tidak dijawab.

Aku jadi benci bahwa aku harus jadi subjek yang bertanya dan aku tak berdaya atas sikap-sikap mereka itu. Oke, mungkin memang benar, bertanya adalah jalan termudah untuk belajar, dan biasanya orang yang merasa kemampuannya itu sudah didapat dari kerja keras, atau mengeluarkan biaya banyak, orang-orang seperti ini tidak ingin rugi, tidak ingin merasa tersaingi. Aku bilang mereka pelit ilmu. Padahal saat aku menjadi objek bertanya, aku terbiasa untuk memberi tahu semua yang aku tahu.

Oke lah, mungkin ada niat baik mereka, bahwa yang harus kita punya adalah kemampuan untuk otodidak. Bukan kemampuan untuk mengetahui apa yang ingin diketahui pada saat itu. Kemampuan untuk otodidak akan bertahan sepanjang masa, sementara kemampuan untuk mengetahui apa yang ingin diketahui saat itu levelnya berada dibawah, jauh dibawah kemampuan untuk ototidak. Bukan cuman otodidak dalam hal ilmu, tapi hal yang simple seperti gathering informasi, di jaman sekarang ini, sudah pasti jadi kemampuan yang harus dimiliki oleh semua orang.

Oke lah, mungkin hukuman kejam oleh guru SD dan SMP ku itu dilakukan karena mereka ingin anak muridnya menjadi yang lebih baik. Tapi tetap saja aku merasa, karena mereka merasa tak berkuasa, dan tak dihargai di lingkungan keluarganya, atau di masyarakat, sehingga pada saat mereka di kelas, otomatis mereka jadi orang yang paling berkuasa, karena mereka guru, karena mereka digugu dan ditiru, karena daftar nilai, dan penilaian anak muridnya ada pada individu yang tak berkuasa itu tadi. Jadi, pada saat mereka berkuasa, ya pada saat mereka di dalam kelas itulah, mereka semena-mena melakukan pembunuhan karakter, dan pembantaian napsu belajar.

Oke lah, mungkin kalau aku tak mengalami masa laluku itu, aku sekarang tak dapat menuliskannya, dan tak mungkin menyadarinya. Yah, aku hanya bisa berterima kasih, kepada dua orang yang jadi pemicuku untuk menuliskan postingan ini. No offense, jangan tersinggung, aku hanya berterima kasih, dan tulisan inilah wujud terima kasihku. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri, untuk lebih giat bertanya. Jika aku menemukan orang yang tak memuaskan keingintahuanku, maka aku akan bertanya ke orang lain. yah, kira-kira gitu. Maka, bertanyalah?

May 30, 2005

 
kata yang tak terjangkarkan,
kadang tuh, ada perasaan dan gejolak jiwa yang nggak bisa aku tuliskan. Lalu pertanyaannya, aku apain perasaan itu? yah, seringkali aku tenggelam dalam perasaan itu, dan semakin terbelenggu, apalagi kalau saat itu aku lagi sendirian. Rasanya di kepala ini banyak kerjaan, banyak tanggung jawab, tapi nggak ada satu pun yang kesentuh, apalagi terselesaikan.

yah, betul, mesti ati-ati kalo lagi ngerasa gitu. Takutnya kalo makin sendirian, perasaan itu makin merajalela. Trus kayanya semua hal yang kita lakuin itu adalah sah, karena ya terbawa perasaan itu, bahkan kadang tindakan yang menyiksa diri bisa aja dibenarkan, karena ya terbawa perasaan itu.

aku baru saja memikirkan, dan mengingat kembali, kapan tepatnya aku bisa merasa nyaman lagi dengan diriku ini.hm...nggak bisa inget tuh..kapan tepatnya...hahahha...
yaa..sekarang sih bisa asik, ketawa-ketiwi, kalo pagi baca koran sambil minum susu, kalo siang bisa bikin marimas rasa jeruk atau asem, atau nutrisari pake air es dan es batu, kalo sore sampe malem bisa chatting sama sahabat dan berbagi pemikiran, di waktu luang bisa baca buku, bisa kumpul bareng keluarga...rasanya...seneng..hatinya tenang...rasanya nggak ada tuh sesuatu yang kurang...

semua sebab-sebab yang tadinya aku pikir bakalan bisa bikin hati ini tentram, sampe akhirnya aku mengambil kesimpulan sendiri, bahagia itu bukan tergantung pada hal-hal yang kita lakuin. Bahagia itu ada di perasaan jiwa, dan itu juga ditentukan dari seberapa banyak rasa syukur kita dalam sehari, meskipun ada bermacem-macem goncangan jiwa. Masih bisa senyum dikala bete, masih punya kesadaran ketika dirundung amarah, menurutku, adalah efek samping dari perasaan jiwa itu.

memang tiap kali ke megamendung, ada pelajaran filsafat kejiwaan yang aku dapet. tapi ya itu tadi, perasaan ini, adalah perasaan yang tak terjangkarkan. sekian. nggak perlu panjang-panjang lagi.titik.

May 28, 2005

 
JOHN LEGEND
"Ordinary People"
[Verse 1]
Girl im in love with you
This ain't the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday
[Bridge]
I know i misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow
[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
[Verse 2]
This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way
[Bridge]
I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I Still want you to stay
[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
[Verse 3]
Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave, maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I
[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Heyyy)
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
ps: thanks buat Nora yang ngenalin lagu ini di megamendung, gile, gw cinta abiez ama ini lagu, tak henti-hentinya kunyanyikan. Liriknya, nadanya, pianonya, gila deh, top abiez...makanya ini jadi lagu pertama yang liriknya aku tulis di blog...take it slow...we're just ordinary people...

 
Tau nggak sih rasanya punya temen orang terkenal, yah minimal aku sih bakalan punya satu, namanya Wisnu, temen sma waktu di debritto dulu, sekarang dia ikut Indonesian Idol. Kabar ini bukan barusan aku denger, sudah jauh-jauh hari, semenjak ramai-ramainya reality show yang sejenis marak diperbincangkan dan jadi fenomena tersendiri di masyarakat. Aku pun bukan juga barusan tau, aku tau jauh-jauh hari, semenjak ya saling tahu aja, soalnya waktu itu hobinya agak unik, sekolah laki semua, tapi dia punya hobi nyanyi. Mungkin bukan cuman aku aja waktu itu yang bakalan sedikit menahan tawa, begitu denger kalo ada anak de britto, yang terkenal karena kebrutalannya, tapi hobinya ikut paduan suara sana sini. Tapi waktu itu aku udah denger juga, kalo orang ini punya suara yang bagus. Tapi waktu itu pun, aku nggak terlalu naroh perhatian sama orang satu ini.

Kita berdua, kalo boleh aku statementkan begitu, bukan sahabat, yah mungkin sekedar tau, aku tau kalo dia hoby nyanyi, dan dia tau kalo aku anak nakal, dulu. Kita berdua, hidup di dunia yang beda, tapi sama-sama punya fans, dia punya fans karena suaranya itu, dan aku karena kenakalanku, katanya sih wanita tuh butuh rasa aman, dan waktu itu juga katanya aku bisa memberikan rasa aman itu. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan, membandingkan dia dan diriku sendiri. Tapi memang itulah yang terjadi malam ini.

Baru malam ini, baru kali ini, aku secara langsung ngeliat temen sma-ku yang satu itu, beraksi di atas panggung. Ada perasaan asing yang keluar dari dalam diriku. Bukan, bukan iri. Tapi aku menggugat kembali impian-impianku. Apakah rencana masa depanku, lengkap dengan profesi pilihanku, adalah sesuatu yang memang diriku. Adalah sesuatu yang memang hatiku ada di situ. Sama kayak si Wisnu tadi, hatinya emang ada di nyanyi, dan dia komit di situ, liat aja hasilnya, kalian yang nonton Indonesian Idol malam ini pasti tau kan? Juri aja sepakat, kalo dia malam ini, adalah kontestan terbaik.

Ya, gitu, aku naik banding, atas rencana-rencana yang sudah aku bikin tentang masa depan, lengkap dengan pilihan profesiku, dan segenap resiko-resikonya. Aku jadi melan, kubawa jazz hitam keliling jogja. Lagu peterpan pun, kali ini, tak sanggup membuatku bersenandung, apalagi bernyanyi. Lengkap satu album, dan selama itu jualah, pikiranku meloncat-loncat dalam irama tertentu, seolah-olah aku menyanyi dalam pikiranku.

Tak kuteruskan berlarut-larut, aku sadar perasaan jiwaku sedang berombak. Hasil perenunganku yaitu, aku sadar bahwa pilihan yang aku buat, lengkap dengan pilihan profesiku, dan segenap resiko-resikonya, memang jauh dari popularitas. Yah, komitmenku sudah bulat, bahwa sebagian waktuku akan kudedikasikan pada pendidikan bangsa ini. Sisanya mungkin pada elektronika, bisnis keluarga, dan mungkin kekuatan kata-kata.

Lengkap diiringi satu album itu, aku terpana pada ketidakberdayaanku melawan runtuhnya sendi-sendi kepercayaan diriku, salah satunya dalam hal nyanyi. Memang suaraku mungkin bukan konsumsi orang banyak, bukan, bukan itu tujuanku nyanyi. Aku nyanyi untuk menggambarkan suasana hatiku, apalagi pas ketemu lagu yang rasa-rasanya pass sama suasana hati, bisa-bisa lagu itu terus yang aku puter di winamp. Sampai orang-orang disekitarku geleng-geleng kepala dan lama-lama ikut menyenandungkan lagu yang aku nyanyikan tadi, bukan karena suara emasku, tapi karena lagu yang aku nyanyikan ya itu-itu aja hahahah...

Lega rasanya, pikiran ini bisa dikontrol lagi, berkat tawa, berkat berani menertawai diri sendiri. Yah, gini aku nggak ragu lagi buat nyanyi, meskipun suaraku nggak seindah penyanyi manapun di dunia ini, minimal aku nyanyi dari dalam hati, untuk menggambarkan emosi, bukan untuk berkompetisi. Tadi aku benar-benar terpana, dan merasa nggak berguna, merasa diri ini dipenuhi omong kosong yang nggak ada bukti nyata, berkaitan dengan rencana masa depanku, lengkap dengan pilihan profesiku, dan segala resiko-resikonya. Seringkali, bukan hanya sekali, aku mengalami kemunduran, tatkala kutemui orang yang punya kemampuan lebih, dalam bidang apapun, dan bidang ini pun aku geluti, ada yang secara serius, ada yang hanya selingkuh satu dua kali, adalagi bidang yang hanya sebagai penyedap rasa. Kemunduran itu sering berbuntut ejakulasi dini pernyataan bahwa aku akan mundur dari bidang itu, entah seberapa tinggi level keseriusannya, karena ya itu, merasa nggak berguna, merasa nggak sebaik orang yang aku lihat itu.

Kala menghadapi kemelut perasaan itu, biasanya kurangkul erat gitarku, ditemani sebatang dua batang rokok, dan kudendangkan lagu-lagu yang bisa kunyanyikan, karena dulu aku makan dan beli rokok dari lagu itu, dan gitar itu. Biasanya juga, kuhabiskan dengan memacu motorku cepat, cepat sekali, tak tahu siapa yang duluan sampai batas, batas kecepatan motorku, atau batas keberanianku yang diiringi dengan naiknya adrenalin dan degupan jantungku. Atau aku mencari dunia yang memang di situ bidangku, di situ aku punya fans kecil-kecilan, di bidang itu aku dikenal, yah aku menulis. Seperti malam ini, kutuliskan perasaanku itu.

Aku sadar, aku haus pengakuan, haus pujian atas apa yang aku lakukan. Enaknya temenku itu ya dia langsung dapet komentar setelah dia nyanyi. Sementara, sikapku setiap hari, di manapun, itulah yang dikomentari orang-orang, setiap hari di manapun aku berada. Seringkali juga komentar itu dipendam dalam hati mereka dan pada saat yang bersamaan, pikiranku menari-nari, bertanya, apa gerangan yang ada di pikiran mereka, apa gerangan yang mereka pikirkan tentang aku?

Aku hampir kehilangan tawaku, bahaya, aku tak mau terhanyut lagi. Sebaiknya kusudahi saja perenunganku malam ini.

Nb: Buat Wisnu, gudlak ya, mungkin kamu bahkan nggak tau, tulisan di atas ada karena kamu, saat aku melihatmu di atas panggung, aku yakin suatu saat kau akan jadi penyanyi yang hebat, karena usaha dan hatimu.

May 26, 2005

 
Ujian sebenarnya,
tak terasa, 3,5 tahun sudah aku berada di ibukota. Selama itu pula aku menyandang atribut
sebagai mahasiswa universitas bina nusantara. Masih teringat jelas, open house di semarang,
USM di loyola, bolak-balik semarang jogja untuk urusan administrasi, maraknya hari-hari POM,
dan perbincangan hangat antar sesama anak baru. Buatku pengalaman selanjutnyalah yang
menjadi turning point sehingga aku gemar membeli buku, menikmati obrolan dengan orang lain,
dan menulis pemikiran-pemikiranku yang terkadang liar, penuh sampah, sampai tulisan-tulisan
yang mampu membuat orang lain ikut memikirkan apa yang aku tulis, kemudian mencari maknanya
sendiri-sendiri. Pengalaman itu adalah pengalaman berorganisasi, pengalaman baru yang belum
pernah aku dapatkan selama karirku yang cenderung pas-pasan di dunia akademis. Organisasi
itu bernama Bina Nusantara Computer Club, disingkat BNCC.

Masa-masa hijau menjadi anggota biasa, aktivis, pengurus dan kemudian dipercaya menjadi
salah satu ketua, bisa jadi akan menghantui, menginspirasi, memotivasi, dan terus menerangi
hari-hariku selepas 3,5 tahun ini. Sementara bagi mahasiswa umumnya yang jauh dari kehidupan
organisasi, masa-masa skripsi mulai dari pemilihan anggota team, pemilihan topik, penyusunan
skripsi, ujian pendadaran, revisi, dan penyusunan hardcover beserta segala urusan
administratif lainnya, pasti menjadi pelangi perasaan yang tak akan mudah dilupakan.

Tentang nilai skripsi juga banyak diperbincangkan. Seolah-olah, kalau nilainya bukan A, maka
berarti musnah sudah cerita-cerita kehebatan skripsi itu sendiri, berarti orang itu nggak
begitu jago, berarti orang itu hanya kebanyakan ngomong yang nggak berbobot, berarti waktu
ngerjain skripsi itu nggak kerja keras..berarti..berarti...dan segala berarti lainnya.

menurutku ujian sebenarnya itu bukan pada saat sidang skripsi, tapi gimana kita njalanin
proses itu, bukan cuman proses penyusunan skripsi, tapi juga proses kita menjalani kuliah
sehari-hari. Nilainya bukan 3 abjad pertama, A, B, atau C, nilainya nggak bisa digambarkan
dengan itu. Nilainya ya seberapa banyak orang itu memahami dirinya sendiri, seberapa banyak
dia bisa ngerti perasaan-perasaannya, gimana caranya dia bisa memahami orang lain, apa
rencana dia ke depan, apakah dia sudah ikutan berjuang untuk mengubah suasana di
keluarganya, apakah dia menyadari sesuatu?

menurutku lagi itu lebih penting, daripada nilai mata kuliah skripsi itu. Memang, beberapa
orang nggak mikir kayak gitu. Tapi gini, orang yang dapet A, pasti jadi lebih PD. Sementara
orang yang dapet nilai B, atau C, biasanya kecewa kalau udah ngerjain bener-bener, sementara
yang ngerjain asal-asalan atau bahkan nggak pernah ngerjain tapi lulus dan dapet C wuaduhh
udah kayak dapet rejeki dari langit!
Permasalahan berikutnya adalah, gimana caranya orang yang kecewa dapet B, atau C itu bisa menerima, dan memahami. Kalau sampai sekarang belum bisa menerima, maka orang ini bakalan terbawa-bawa arus kekecewaan, dan potensinya nggak akan bisa keluar semua, karena terus
menerus dihantui oleh perasaan bahwa dirinya bodoh, dirinya nggak lebih dari yang lain,
bahwa dirinya kalah dari orang lain, bahwa dirinya adalah orang yang nggak berarti.

aku sendiri dapet B, jujur ada kekecewaan yang mendalam ketika nilai itu dikumandangkan.
Lalu pikiran nakal ini mulai mencari kenapa sebab kok nggak bisa dapet A? muncullah seribu
alasan seperti, penguji nggak ngerti apa yang kita bikin, penulisannya sangat-sangat kurang
sekali, komunikasi sesama rekan team kurang bagus, kebanyakan berantem, karena nggak biasa
menghadapi penolakan idealisme, karena nggak biasa ngomong secara ilmiah, karena nggak bisa
bagi waktu, karena nggak serius ngerjain, karena nggampangin, karena..karena dan karena...untungnya, kesadaran itu muncul. Bahwa aku nggak boleh terjerumus. Bahwa sekarang aku sudah
sarjana, bahwa sekarang saatnya aku berkarya buat orang banyak, bahwa bukan nilai yang
penting tapi perjuangan yang sebenarnya adalah gimana dunia bisa mengenal seorang yang
namanya Handoko Wiyanto, dikenal baik karena kelebihannya, tanpa menyangkal bahwa ada
kekurangan-kekurangan yang dimilikinya.

gitu, jadi kalo udah jadi sarjana pun, tapi bingung mau kerja apa dan di mana, ya selamat
mengkoreksi diri, 3,5 tahun itu gimana kok bisa lewat gitu aja. Tapi tenang, bukan kiamat,
dan justru jangan jadi bahan pikiran terus menerus, nikmati aja, dan jangan lupa ketawa,
karena ini bagian yang paling penting.Orang yang nggak sarjana, tapi kalo dia tiap kali ngerjain sesuatu pake hati, ada gairah orang itu yang tertuang dalam pekerjaannya, maka tinggal masalah waktu. Aku pikir, kita mau
jadi apa itu karena pilihan, dan kesetiaan, sejauh mana mau setia dengan bidang yang kita
geluti itu. Dan sampai pada saat itulah kita dikenal orang.
Selamat menjadi sarjana!

May 18, 2005

 
nggak kerasa yah, sekarang udah di jogja lagi. padahal 3 minggu kemaren, tepatnya tanggal 23 april sampe 16 mei aku idup di gunung. Namanya kampung baru, di situlah aku belajar sesuatu yang baru, elektronika. Aku suka tinggal di situ, udaranya pas, meskipun untuk masyarakat sekitar katanya sih dingin, tapi untukku tak terlalu dingin dan tak terlalu panas juga. Namanya juga Megamendung, jadi nggak peduli di Indonesia ada musim kemarau dan musim dingin, toh di daerah itu hujannn terus...

Dalam tempo yang singkat, kira-kira 3 minggu, setelah sebelumnya seminggu di situ juga, jadi kalo ditotal ya sebulan, aku belajar banyak hal. Bukan cuman megang solder dan timah aja, ada beberapa pemikiran yang baru aku sadari di situ. Memang, hal ini pengaruh besar dari kebiasaan setiap pagi-sore sembahyang di kuil Myo-Ganji, yang memang letaknya nggak jauh dari tempat aku tinggal. Ditambah lagi, aku flow masyarakat situ yang nggak grusa-grusu dalam menjalani hidup, tapi tenang tapi pasti, bak air mengalir.

Saat ini, aku paling sebel sama pertanyaan "Kerja di mana sekarang?" atau "Udah kerja belum?" yee, dalem hati aku jawab, emang kalo udah kelar kuliahnya itu udah pasti harus kerja gitu ya? Ya aku sih tau apa itu kemandirian, aku tau apa itu tanggung jawab, minimal versiku sendiri. Bukannya aku males cari kerja, aku udah nyari tuh dari dulu, tapi bukan model kirim-kirim lamaran nggak jelas gitu..bukan...yah bukannya sombong, tapi buat yang sekarang ini aku udah ada planning sendiri, perkara planning-nya jalan dengan bagus atau nggak ya itu masalah nanti.

Aku pikir, kalo orang udah kerja dan terikat waktu, maksudku mesti ngantor dari pagi sampe ntar ngabisin sunset di jalan, kebanyakan jadi males untuk belajar sesuatu hal yang baru. Aku termasuk orang kebanyakan itu, yang males belajar itu. Makanya, setelah kelar kuliah, dan sebelum wisuda, aku nggak cepet-cepet kerja. Aku endapkan dulu, apa yang udah aku dapet 3,5 tahun itu, baru nanti aku berkarya di bidang itu.

Emang nggak boleh menikmati hidup barang sebentar? kan semasa kuliah anak-anak yang lain bisa main game, ke mall, ke bioskop, sopink, sementara aku sendiri rapat ini rapat itu, musingin ini-musingin itu, trus ada omong kosong ini ada omong kosong itu, pokoknya wwweellll dhe....ya sekarang gantian bentar nggak papa kan. toh cuman sampe ntar di wisuda kok. Abis itu ya aku kerja, kerja kantoran, bisa jadi masuk pagi pulang sore, bisa jadi juga nggak begitu, ya ntar deh diliat-liat ajha.

Ada juga temen yang nanyain tentang karya tulisan-tulisan, kok kayanya nggak pernah nulis-nulis lagi. Wah bener juga tuh, kalo diliat-liat tanggal postingnya sih emang jarang-jarang ya. Dan aku sendiri juga lagi liburan nulis tuh. Si elly sih bilang, nulis itu hobi, jadi ya kapan suka aja baru nulis. Heheh..enak juga yha, bisa memandang simple nulis kayak gitu. Sayangnya aku nggak bisa gitu, tulisan-tulisan itu ada dikepalaku terus...terus...dan terus...seolah-olah di dalem kepalaku ini ada mesin ketik 24 jam yang nggak berhenti-berhenti. Tapi emang beda sih, antara diawank-awank, sama ditulis beneran. Kata orang, budaya membaca dan menulis itu bisa membawa kebijaksanaan. Jadi, bisa jadi, bahwa menulis itu adalah output dari input yang namanya membaca. Dan bisa jadi juga, bahwa keinginan untuk menjadi seorang penulis pasti dimiliki oleh orang yang suka membaca. Dan aku salah satunya.

Pernah juga aku bertanya, dan bukan cuman sekali, aku sih nggak tau dialog itu persisnya ada di kepala, atau di hati, emang aku mau jadi penulis ya? Ditambah lagi kadang ada statement dari orang lain, wah sekarang semua orang jadi penulis, jueger....jadi minder deh, tapi kadang lagi pas baca di media atau majalah, ada lagi fakta bicara bahwa bangsa ini budaya membaca-menulisnya masih bakteri, alias kecil bangett...

Yah, kali ini nggak panjang-panjang, lagi ngerasain enaknya hidup setelah sedikit tersesat di filsafat. Kali lain aku cerita. Intinya, aku baik-baik aja, dan tetap akan di jogja mulai hari ini, sampai batas waktu yang belum ditentukan. Masalah aku mau ngapain, ya pokoknya aku pengen belajar macem-macem, seblum ngantor dari pagi-sore jadi kewajibanku, seperti orang-orang pada umumnya.

buat orang-orang di Kampung baru, dan megamendung, well guys...kangen beratt sama kehidupan di situ, kangen berat sama bangun pagi disapa kabut, pergi ke kuil, mandi pake gayunk dan air dinginn, belajar praktek seharian, ngeliat sunset dari gunung, nganter sahabat pergi nyanyi, menikmati gemerlap lampu-lampu dari lantai 2. Yah baru sadar minimnya rasa syukur yang aku punya, dan hampanya kehidupan kota, dan...cinta...!??!

powered by Blogger Simple-Blogskins