January 31, 2005
Kemaren bilang, nggak usah ke sini sampe hari senin ya. Ternyata cuman terpaut satu hari, dia dateng dan nampaknya hubungannya baik-baik aja. Jadi jangan ambil keputusan pada saat emosi....
aku bingung mau nulis apa, sama dengan kebingungan yang aku dapat di atas. Nampaknya belakangan ini aku lebih terhanyut pada momen-momen sekelebat tentang apa yang ingin aku tulis, tanpa kutulis betulan. Berandai-andai orang bakal baca, dan emosinya berubah. Hatinya bergejolak.Mungkin aku belum menulis dengan tujuan membangun bangsa dan membentuk karakternya. Aku masih angin-anginan. Kadang dalam sehari bisa nulis beberapa kali, tapi lebih sering absen beberapa minggu, trus baru nulis lagi.
Ternyata ada juga perasaan lega, setelah dengan berat hati mengambil keputusan untuk melepas salah satu tanggung jawab. Bukan sepenuhnya melepas, tapi menunda. Sekarang aku ingin konsen ke skripsi dulu. Menulis secara ilmiah. AKu tunda kelas ketigaku. Aku tunda editanku, dan aku tunda soal-soalku.
Aku pikir semua orang pasti suka punya banyak sahabat. Terlalu jahat untuk membandingkan sahabat dengan koleksi mp3 yang ada di hardisk. Saat ingin dengar musik jazz, tinggal buka winamp, Shift+L, dan pilih foldernya. Tiba-tiba pengen denger lagu yang mellow. maka tinggal tekan Ctrl+Shift+End, lalu Shift+L lagi. Kalo lagi pengen sama sahabat yang mana, ya dateng aja, spent time bareng mereka. Tiba-tiba pengen ke tempat lain ya tinggal pergi aja.
Mungkin ada hubungannya antara manusia yang masih berpindah-pindah tempat, dengan manusia yang menetap. Menurut disiplin ilmu sejarah, manusia yang menetap cenderung memiliki budaya yang lebih maju. Apakah teori ini berlaku buat masalah sahabat tadi ya?
aku pernah dikasih tau, dan diminta berhati-hati dengan diriku yang mudah dekat dengan orang lain, dan mudah beradaptasi. Bisa jadi aku salah pergaulan. Bisa jadi aku terjebak cinta lokasi. Bisa jadi aku nggak punya pendirian, dan terbawa arus ke sana ke sini, dengan segudang aktifitas, tanpa tau apa gunanya.
Ketika aku mengajukan pertanyaan "Pernah nggak sih waktu kalian dalam posisi menjalin komitmen dengan seseorang, ternyata kalian ketemu dengan orang yang lebih perhatian dari pasangan?" hampir semua orang berasumsi, wah si endoch lagi suka sama cewek lain selain pacarnya, atau pacarnya lagi suka sama orang lain. Secepat itukah orang mengambil kesimpulan? Nampaknya pendidikan akademis tidak mengajarkan langkah-langkah mengambil kesimpulan yang tepat.
ketika kata menjadi kalimat, semua orang belum tentu punya asumsi yang sama. ketika dihadapkan pada angka 26, benakku terkait dengan skripsi, yah itu tanggal pengumpulan softcover skripsi. Padahal masih banyak nuansa lain. Nuansa lain itu benar, hanya saja saat ini perasaan mengenai softcover tadilah yang mengikat kuat makna angka 26.
Nampaknya aku kebanyakan tidur. Akibatnya aku mudah cemas, gelisah, dan cenderung ingin menyenangkan hati orang-orang di mana aku berada. Aku terkena wabah penyakit. Disease to please. Aku lebih asik terhanyut dengan permasalahan orang lain, dan tertarik untuk mengatasinya, berbuat sesuatu yang mungkin berarti daripada berani menghadapi tantangan-tantanganku sendiri.
Aku belum punya keberanian untuk menghadapi stres. Aku lebih memilih menghindari apa yang nggak enak, apa yang berat, dan apa yang menyakitkan. Aku lebih 'pewe' pada kenikmatan sesaat, nonton felm, main game, menghabiskan waktu dengan ngobrol. Sementara yang aku obrolkan adalah tentang ilusi stresku. Pantas saja tak satu halpun ada yang selesai, atau minimal berjalan sesuai target. Karena memang aku nggak mengerjakan sesuatu yang mengarah ke situ. Karena memang aku nggak pernah bikin target yang jelas.
Sempat aku berburu buku tentang time management, fokus, first thing first, kebiasaan yang efektif, dan segudang bacaan yang menawarkan solusi instant. Sampai-sampai bacaan itu menimbulkan arus balik yang lebih dahsyat lagi. Kepala ini dipenuhi teori-teori mengenai sebaiknya begini..sebaiknya begitu..sebaiknya...
Anjing! pikirku.
Jadi peperangan itu selama ini hanya ada di pikiran. AKu ingin memindahkannya, ke tangan, atau ke hati. Aku harap aku bisa melakukannya dengan tulisan. Aku harap kali ini aku tidak terjebak pada metode-metode instant, atau terjebak pada pencarian metode mana yang paling baik, sementara aku tidak mengambil tindakan apapun. Hanya mencari dan mencari.
Kuubah skin winamp jadi Varsity, kali ini aku Ctrl+Shift+Del sekumpulan lagu-lagu indo. Aku tekan L, dan memilih Tohpati-Sendiri. Aku tuh melankolis. Aku lupa definisi yang tepat untuk melankolis itu apa. Pada selesai makan, aku harus mengatur agar piring, dan sisa makananku tampak indah, teratur. Pada saat listrik sering mati, aku membeli lilin, beda dengan lilin putih biasa. Pacarku sudah berteori, kalau-kalau lilin itu nggak bakalan dipakai, karena sayang. Teori itu ternyata betul.
Melankolis itu seharusnya lebih menikmati perasaan. bukan serba takut, dan berprasangka buruk.
pernyataan "wah kalo endoch ngirim buat chichken soup for the soul-nya Indonesia, pasti masuk deh", atau "Coba waktu itu kamu ikut lomba nulisnya, pasti kamu menang" pernah juga "kamu tuh bisa menuliskan sesuatu yang tadinya simple jadi panjang, tapi tetep enak buat dibaca" adalagi"endoch kalo nulis itu bikin kerangka dulu nggak sih, kok kayanya sama kayak baca kompas ya, tulisannya bisa mengalir gitu..."
mungkin pernyatan-pernyataan di atas bukan berupa hipotesa yang harus diuji kebenarannya. Mungkin juga itu hasil dari penarikan kesimpulan yang terlalu cepat.
pernah juga ada pertanyaan"kok yang ngisi shoutbox kamu isinya orang-orang itu aja sih?"atau"Ah masak di friendster kamu cuman dapet 200an..temen, dan beberapa biji testi?"ada juga"dapet sms berapa banyak waktu ultah kemaren?"
atau ada juga pernyataan terkaget-kaget seperti"Hah, masak sih, ternyata endoch kalo pacaran kayak gitu yaa, padahal aku pikir dia tuh orangnya pengertian, dewasa..." trus dikemudian hari kalo ketemu aku, tatapan matanya jadi aneh. Mereka pikir aku nggak tau, padahal aku tau kalo mereka tau dan menganggap aku nggak tau. Seolah-olah, bangunan kokoh tentang aku yang tadinya bijaksana, tinggal puing-puing belaka.
Aku matikan lampu kamarku dan kunyalakan lilin itu. Kunyalakan dua dari empat. Setelah kuamati, lilin yang baru nyala apinya kadang lebih besar dan bergerak-gerak. Mungkin karena lilin yang mencair masih banyak. Lama-kelamaan lilin yang mencair itu lenyap. Dan nyala lilin itu menjadi lebih stabil.
waktu aku masuk suatu lingkungan yang baru, aku merasa wah dan penuh semangat. Waktu aku dapet statement pujian itu, hatiku berbunga-bunga. Waktu kudapat pernyataan yang melecehkan, hatiku bergejolak. Mungkin itu karena aku baru saja menyala, dan bagian yang mencair itu masih ada.
Aku ingin mencari kebenaran sejati, bukan pengkotak-kotakan semu. Aku tau, aku akan lebih stabil dan tidak akan menjawab pertanyaan "Apa itu melankolis?", tapi aku lebih memahami perasaan dan pemikiranku serta dapat menyikapi ejakulasi dini kesimpulan dan pernyataan yang ditujukan padaku.
Aku matikan lilin merah dan hijau muda. Akan kunyalakan lagi ketika aku ingin melihat gejolak itu...
aku bingung mau nulis apa, sama dengan kebingungan yang aku dapat di atas. Nampaknya belakangan ini aku lebih terhanyut pada momen-momen sekelebat tentang apa yang ingin aku tulis, tanpa kutulis betulan. Berandai-andai orang bakal baca, dan emosinya berubah. Hatinya bergejolak.Mungkin aku belum menulis dengan tujuan membangun bangsa dan membentuk karakternya. Aku masih angin-anginan. Kadang dalam sehari bisa nulis beberapa kali, tapi lebih sering absen beberapa minggu, trus baru nulis lagi.
Ternyata ada juga perasaan lega, setelah dengan berat hati mengambil keputusan untuk melepas salah satu tanggung jawab. Bukan sepenuhnya melepas, tapi menunda. Sekarang aku ingin konsen ke skripsi dulu. Menulis secara ilmiah. AKu tunda kelas ketigaku. Aku tunda editanku, dan aku tunda soal-soalku.
Aku pikir semua orang pasti suka punya banyak sahabat. Terlalu jahat untuk membandingkan sahabat dengan koleksi mp3 yang ada di hardisk. Saat ingin dengar musik jazz, tinggal buka winamp, Shift+L, dan pilih foldernya. Tiba-tiba pengen denger lagu yang mellow. maka tinggal tekan Ctrl+Shift+End, lalu Shift+L lagi. Kalo lagi pengen sama sahabat yang mana, ya dateng aja, spent time bareng mereka. Tiba-tiba pengen ke tempat lain ya tinggal pergi aja.
Mungkin ada hubungannya antara manusia yang masih berpindah-pindah tempat, dengan manusia yang menetap. Menurut disiplin ilmu sejarah, manusia yang menetap cenderung memiliki budaya yang lebih maju. Apakah teori ini berlaku buat masalah sahabat tadi ya?
aku pernah dikasih tau, dan diminta berhati-hati dengan diriku yang mudah dekat dengan orang lain, dan mudah beradaptasi. Bisa jadi aku salah pergaulan. Bisa jadi aku terjebak cinta lokasi. Bisa jadi aku nggak punya pendirian, dan terbawa arus ke sana ke sini, dengan segudang aktifitas, tanpa tau apa gunanya.
Ketika aku mengajukan pertanyaan "Pernah nggak sih waktu kalian dalam posisi menjalin komitmen dengan seseorang, ternyata kalian ketemu dengan orang yang lebih perhatian dari pasangan?" hampir semua orang berasumsi, wah si endoch lagi suka sama cewek lain selain pacarnya, atau pacarnya lagi suka sama orang lain. Secepat itukah orang mengambil kesimpulan? Nampaknya pendidikan akademis tidak mengajarkan langkah-langkah mengambil kesimpulan yang tepat.
ketika kata menjadi kalimat, semua orang belum tentu punya asumsi yang sama. ketika dihadapkan pada angka 26, benakku terkait dengan skripsi, yah itu tanggal pengumpulan softcover skripsi. Padahal masih banyak nuansa lain. Nuansa lain itu benar, hanya saja saat ini perasaan mengenai softcover tadilah yang mengikat kuat makna angka 26.
Nampaknya aku kebanyakan tidur. Akibatnya aku mudah cemas, gelisah, dan cenderung ingin menyenangkan hati orang-orang di mana aku berada. Aku terkena wabah penyakit. Disease to please. Aku lebih asik terhanyut dengan permasalahan orang lain, dan tertarik untuk mengatasinya, berbuat sesuatu yang mungkin berarti daripada berani menghadapi tantangan-tantanganku sendiri.
Aku belum punya keberanian untuk menghadapi stres. Aku lebih memilih menghindari apa yang nggak enak, apa yang berat, dan apa yang menyakitkan. Aku lebih 'pewe' pada kenikmatan sesaat, nonton felm, main game, menghabiskan waktu dengan ngobrol. Sementara yang aku obrolkan adalah tentang ilusi stresku. Pantas saja tak satu halpun ada yang selesai, atau minimal berjalan sesuai target. Karena memang aku nggak mengerjakan sesuatu yang mengarah ke situ. Karena memang aku nggak pernah bikin target yang jelas.
Sempat aku berburu buku tentang time management, fokus, first thing first, kebiasaan yang efektif, dan segudang bacaan yang menawarkan solusi instant. Sampai-sampai bacaan itu menimbulkan arus balik yang lebih dahsyat lagi. Kepala ini dipenuhi teori-teori mengenai sebaiknya begini..sebaiknya begitu..sebaiknya...
Anjing! pikirku.
Jadi peperangan itu selama ini hanya ada di pikiran. AKu ingin memindahkannya, ke tangan, atau ke hati. Aku harap aku bisa melakukannya dengan tulisan. Aku harap kali ini aku tidak terjebak pada metode-metode instant, atau terjebak pada pencarian metode mana yang paling baik, sementara aku tidak mengambil tindakan apapun. Hanya mencari dan mencari.
Kuubah skin winamp jadi Varsity, kali ini aku Ctrl+Shift+Del sekumpulan lagu-lagu indo. Aku tekan L, dan memilih Tohpati-Sendiri. Aku tuh melankolis. Aku lupa definisi yang tepat untuk melankolis itu apa. Pada selesai makan, aku harus mengatur agar piring, dan sisa makananku tampak indah, teratur. Pada saat listrik sering mati, aku membeli lilin, beda dengan lilin putih biasa. Pacarku sudah berteori, kalau-kalau lilin itu nggak bakalan dipakai, karena sayang. Teori itu ternyata betul.
Melankolis itu seharusnya lebih menikmati perasaan. bukan serba takut, dan berprasangka buruk.
pernyataan "wah kalo endoch ngirim buat chichken soup for the soul-nya Indonesia, pasti masuk deh", atau "Coba waktu itu kamu ikut lomba nulisnya, pasti kamu menang" pernah juga "kamu tuh bisa menuliskan sesuatu yang tadinya simple jadi panjang, tapi tetep enak buat dibaca" adalagi"endoch kalo nulis itu bikin kerangka dulu nggak sih, kok kayanya sama kayak baca kompas ya, tulisannya bisa mengalir gitu..."
mungkin pernyatan-pernyataan di atas bukan berupa hipotesa yang harus diuji kebenarannya. Mungkin juga itu hasil dari penarikan kesimpulan yang terlalu cepat.
pernah juga ada pertanyaan"kok yang ngisi shoutbox kamu isinya orang-orang itu aja sih?"atau"Ah masak di friendster kamu cuman dapet 200an..temen, dan beberapa biji testi?"ada juga"dapet sms berapa banyak waktu ultah kemaren?"
atau ada juga pernyataan terkaget-kaget seperti"Hah, masak sih, ternyata endoch kalo pacaran kayak gitu yaa, padahal aku pikir dia tuh orangnya pengertian, dewasa..." trus dikemudian hari kalo ketemu aku, tatapan matanya jadi aneh. Mereka pikir aku nggak tau, padahal aku tau kalo mereka tau dan menganggap aku nggak tau. Seolah-olah, bangunan kokoh tentang aku yang tadinya bijaksana, tinggal puing-puing belaka.
Aku matikan lampu kamarku dan kunyalakan lilin itu. Kunyalakan dua dari empat. Setelah kuamati, lilin yang baru nyala apinya kadang lebih besar dan bergerak-gerak. Mungkin karena lilin yang mencair masih banyak. Lama-kelamaan lilin yang mencair itu lenyap. Dan nyala lilin itu menjadi lebih stabil.
waktu aku masuk suatu lingkungan yang baru, aku merasa wah dan penuh semangat. Waktu aku dapet statement pujian itu, hatiku berbunga-bunga. Waktu kudapat pernyataan yang melecehkan, hatiku bergejolak. Mungkin itu karena aku baru saja menyala, dan bagian yang mencair itu masih ada.
Aku ingin mencari kebenaran sejati, bukan pengkotak-kotakan semu. Aku tau, aku akan lebih stabil dan tidak akan menjawab pertanyaan "Apa itu melankolis?", tapi aku lebih memahami perasaan dan pemikiranku serta dapat menyikapi ejakulasi dini kesimpulan dan pernyataan yang ditujukan padaku.
Aku matikan lilin merah dan hijau muda. Akan kunyalakan lagi ketika aku ingin melihat gejolak itu...
January 09, 2005
Alih-alih bertanya "apa tujuan hidupku?"
sekarang aku disibukkan dengan pertanyaan "bagaimana caranya bikin hidupku ini berarti, bersemangat, dan ceria?". Setelah aku pikir-pikir, aku suka nulis. Aku juga suka ngobrol. Aku bahagia kalo bisa ngelakuin sesuatu buat orang lain.
Nulis, aku takut aku cuman terbawa arus. Aku takut aku cuman tertular semangat penulis-penulis lain yang aku beli dan kadang, aku baca bukunya. Sempat juga terpikir, nulis itu adalah buah dari tanaman yang namanya mbaca, mikir, ngobrol, ato ngelakuin sesuatu. Kadang, sembayang pagi atau sembayang sore, aku gantikan dengan nulis. AKu heran, kok bisa kepikiran gini, nulis dan sembayang itu punya efek sama, sama-sama bisa bikin hati tenang, bersemangat. Aku harap aku tidak melakukan perselingkuhan, secara batin tentunya, dengan tulisan-tulisanku itu.
Filsafat, filsafat telah mengubahku. Dini, terlalu dini untuk menyatakan aku mengubah filsafat.
Saking suka dan pengennya bantuin orang lain, kadang aku ikut campur masalah-masalah pribadi orang. Dengan kritik keras, dan omelan. Toh cuman itu yang aku bisa. Harapannya ya cuman satu, orang itu sadar, kembali punya semangat, dan mewujudkan semangat itu dalam tindakan nyata. Naif?
Bukan cuman tentang masalah organisasional, masalah pribadi, masalah keluarga, pacar, kadang komputer dan tentang networking. Kalo tentang networking, aku sering juga tuh ngerasa sok tau. Meskipun kadang memang sedikit lebih tau. Dengan teori-teori ala endoch, disajikanlah solusi prematur dunia IT. Wah, semoga tidak beracun.
Kadang aku juga berjuang, untuk menjadi pembuat suasana. Tapi aku jarang meriksa, suasana yang aku buat itu bagus apa nggak ya? Kecuali emang tamu melankolis lagi berkunjung. Menyesali pikiran yang tak terucap, tapi lucunya lebih sering yang diucap juga disesali. Tanpa kata maaf.
Keterasingan adalah lawan tangguhku. Lama juga aku berguru kesana-kemari mencari celah. Mencoba melawan, mendiadakan perasaan itu. Baru saja aku tahu, ternyata Shakespeare dan Geothe bisa membuat masterpiece dunia karena mereka tidak melawan keterasingannya itu. Tapi menerimanya. Weleh, kok terkesan gampang ya? Aku coba...
Kerja apa ya, yang isinya ngobrol, bantuin orang, dan bisa mengekspresikan perasaanku dengan bebas, jujur. Tapi halal. Nggak mesti ada kenikmatan fisik, bolehlah pikiran yang berorgasme.
Kemaren aku ngobrol bareng salah satu senior di tempat kerjaku. Kebetulan sore itu langit cukup ramah, jadi kami bisa makan dengan tenang, tanpa takut kalo pulang nanti akan kehujanan. Perbedaan umur cuman satu tahun, tapi kompetensi dia di dunia networking jauh diatasku. Obrolan singkat dibuka dengan pertanyaan "gimana skripsi loe?". Iya, begitu cara senior-senior di tempat kerjaku, memperhatikan studi akademisku.
Obrolan yang menarik, selain tentang networking tentunya, adalah tentang hidup dan bahagia. Aku sendiri nggak ingat dari mana awalnya kok tiba-tiba bisa menjurus ke orborlan yang berbau filosofis lagi. Layaknya senior yang baik, selain tentang networking, dia selalu bercerita tentang tempat kerja, bagaimana seharusnya menjalani hidup, serta info-info tentang teknologi di networking. Bukan cerita satu arah, seringkali dia juga memberi aku kesempatan untuk berpendapat juga, masih dalam topik yang sama. Kami berdiskusi.
Perbincangan yang menarik di sore hari itu kututup dengan pertanyaan, "jadi, gimana seharusnya biar kita hidup bahagia?" Ada statement menarik yang dia lontarkan, "orang nggak bisa hidup sendiri, tapi kita harus bisa hidup sendiri." Maksudnya, kita butuh komunitas, butuh orang lain. Tapi pada taraf tertentu, nggak ada orang yang bener-bener mengerti perasaan kita, nggak semua hal bisa kita ceritain ke orang lain.
Wah, tips yang menarik pikirku. Aku sendiri nggak nyangka, seniorku itu punya pemikiran sedalam itu, tentang hidup. "Yang kedua..." aku menanti-nanti statement menarik apa berikutnya. Sambil jalan pelan-pelan, kulepas pandanganku ke jalan, karena tidak ada lampu penerangan dalam perjalanan kembali ke tempat kerja.
"adalah..lakuin yang lu suka..hahha.." aku suka statement ini, simple tapi dalam maknanya. Aku jadi berpikir, aku suka nonton felm, tapi bisakah aku hidup dari nonton felm aja? Aku suka main game, tapi bisakah aku hidup dari main Need For Speed aja? Aku suka ngobrol, tapi apa ya enak tiap hari cuman ngobrol? AKu cinta mati sama buku, buku sih memberikan cintanya ke semua orang sama kayak matahari, tapi apa ya bisa hidup cuman pake buku? AKu suka liburan, tapi apa jadinya kalo tiap hari itu liburan?
Jadi, yang enak itu adalah kombinasi dari semuanya. Habis kerja keras, trus akhir minggu dilewatkan dengan nonton felm bareng orang yang disayangi. Kalo lagi bete sama kerjaan, ditinggal main game. Kalo ngobrol ya liat kualitas obrolannya kayak apa, tapi yang lebih penting ada tindakan nyatanya nggak, atau cuman NATO? Misalnya udah banyak tau dari buku, toh tetep harus ada karya nyata buat sesama. Liburan juga cuman terasa nikmat kalo sebelumnya ada hari kerja. Kalo setiap hari itu liburan, ya nggak ada lagi perasaan nikmatnya liburan, justru bosen.
Simple ya, tapi di jurang kesimple-an itu tadi, ternyata banyak pemikiran yang mesti digali lebih dalam lagi. Terima kasih senior AH!
sekarang aku disibukkan dengan pertanyaan "bagaimana caranya bikin hidupku ini berarti, bersemangat, dan ceria?". Setelah aku pikir-pikir, aku suka nulis. Aku juga suka ngobrol. Aku bahagia kalo bisa ngelakuin sesuatu buat orang lain.
Nulis, aku takut aku cuman terbawa arus. Aku takut aku cuman tertular semangat penulis-penulis lain yang aku beli dan kadang, aku baca bukunya. Sempat juga terpikir, nulis itu adalah buah dari tanaman yang namanya mbaca, mikir, ngobrol, ato ngelakuin sesuatu. Kadang, sembayang pagi atau sembayang sore, aku gantikan dengan nulis. AKu heran, kok bisa kepikiran gini, nulis dan sembayang itu punya efek sama, sama-sama bisa bikin hati tenang, bersemangat. Aku harap aku tidak melakukan perselingkuhan, secara batin tentunya, dengan tulisan-tulisanku itu.
Filsafat, filsafat telah mengubahku. Dini, terlalu dini untuk menyatakan aku mengubah filsafat.
Saking suka dan pengennya bantuin orang lain, kadang aku ikut campur masalah-masalah pribadi orang. Dengan kritik keras, dan omelan. Toh cuman itu yang aku bisa. Harapannya ya cuman satu, orang itu sadar, kembali punya semangat, dan mewujudkan semangat itu dalam tindakan nyata. Naif?
Bukan cuman tentang masalah organisasional, masalah pribadi, masalah keluarga, pacar, kadang komputer dan tentang networking. Kalo tentang networking, aku sering juga tuh ngerasa sok tau. Meskipun kadang memang sedikit lebih tau. Dengan teori-teori ala endoch, disajikanlah solusi prematur dunia IT. Wah, semoga tidak beracun.
Kadang aku juga berjuang, untuk menjadi pembuat suasana. Tapi aku jarang meriksa, suasana yang aku buat itu bagus apa nggak ya? Kecuali emang tamu melankolis lagi berkunjung. Menyesali pikiran yang tak terucap, tapi lucunya lebih sering yang diucap juga disesali. Tanpa kata maaf.
Keterasingan adalah lawan tangguhku. Lama juga aku berguru kesana-kemari mencari celah. Mencoba melawan, mendiadakan perasaan itu. Baru saja aku tahu, ternyata Shakespeare dan Geothe bisa membuat masterpiece dunia karena mereka tidak melawan keterasingannya itu. Tapi menerimanya. Weleh, kok terkesan gampang ya? Aku coba...
Kerja apa ya, yang isinya ngobrol, bantuin orang, dan bisa mengekspresikan perasaanku dengan bebas, jujur. Tapi halal. Nggak mesti ada kenikmatan fisik, bolehlah pikiran yang berorgasme.
Kemaren aku ngobrol bareng salah satu senior di tempat kerjaku. Kebetulan sore itu langit cukup ramah, jadi kami bisa makan dengan tenang, tanpa takut kalo pulang nanti akan kehujanan. Perbedaan umur cuman satu tahun, tapi kompetensi dia di dunia networking jauh diatasku. Obrolan singkat dibuka dengan pertanyaan "gimana skripsi loe?". Iya, begitu cara senior-senior di tempat kerjaku, memperhatikan studi akademisku.
Obrolan yang menarik, selain tentang networking tentunya, adalah tentang hidup dan bahagia. Aku sendiri nggak ingat dari mana awalnya kok tiba-tiba bisa menjurus ke orborlan yang berbau filosofis lagi. Layaknya senior yang baik, selain tentang networking, dia selalu bercerita tentang tempat kerja, bagaimana seharusnya menjalani hidup, serta info-info tentang teknologi di networking. Bukan cerita satu arah, seringkali dia juga memberi aku kesempatan untuk berpendapat juga, masih dalam topik yang sama. Kami berdiskusi.
Perbincangan yang menarik di sore hari itu kututup dengan pertanyaan, "jadi, gimana seharusnya biar kita hidup bahagia?" Ada statement menarik yang dia lontarkan, "orang nggak bisa hidup sendiri, tapi kita harus bisa hidup sendiri." Maksudnya, kita butuh komunitas, butuh orang lain. Tapi pada taraf tertentu, nggak ada orang yang bener-bener mengerti perasaan kita, nggak semua hal bisa kita ceritain ke orang lain.
Wah, tips yang menarik pikirku. Aku sendiri nggak nyangka, seniorku itu punya pemikiran sedalam itu, tentang hidup. "Yang kedua..." aku menanti-nanti statement menarik apa berikutnya. Sambil jalan pelan-pelan, kulepas pandanganku ke jalan, karena tidak ada lampu penerangan dalam perjalanan kembali ke tempat kerja.
"adalah..lakuin yang lu suka..hahha.." aku suka statement ini, simple tapi dalam maknanya. Aku jadi berpikir, aku suka nonton felm, tapi bisakah aku hidup dari nonton felm aja? Aku suka main game, tapi bisakah aku hidup dari main Need For Speed aja? Aku suka ngobrol, tapi apa ya enak tiap hari cuman ngobrol? AKu cinta mati sama buku, buku sih memberikan cintanya ke semua orang sama kayak matahari, tapi apa ya bisa hidup cuman pake buku? AKu suka liburan, tapi apa jadinya kalo tiap hari itu liburan?
Jadi, yang enak itu adalah kombinasi dari semuanya. Habis kerja keras, trus akhir minggu dilewatkan dengan nonton felm bareng orang yang disayangi. Kalo lagi bete sama kerjaan, ditinggal main game. Kalo ngobrol ya liat kualitas obrolannya kayak apa, tapi yang lebih penting ada tindakan nyatanya nggak, atau cuman NATO? Misalnya udah banyak tau dari buku, toh tetep harus ada karya nyata buat sesama. Liburan juga cuman terasa nikmat kalo sebelumnya ada hari kerja. Kalo setiap hari itu liburan, ya nggak ada lagi perasaan nikmatnya liburan, justru bosen.
Simple ya, tapi di jurang kesimple-an itu tadi, ternyata banyak pemikiran yang mesti digali lebih dalam lagi. Terima kasih senior AH!
January 07, 2005
Kenapa mesti dipisah-pisah? pernyataan ini yang akhirnya mengurungkan niatku untuk membuat esai-esai singkat berdasarkan kategorinya. Mungkin terkesan keren, atau lebih terorganisir, pemikiran seorang Handoko tentang sesuatu, yah siapa tau aku jadi Plato di abad ke 21 ini.
Kali ini aku pengen ngomong tentang makanan.
Bedanya makanan rumah, sama makanan yang ada di rumah makan, rumah makan yang di sekitar binus, tentunya.
Makanan rumah tidak dimasak dengan tergesa-gesa, tapi setiap irisan dipotong penuh kesungguhan, dimasak menggunakan bumbu kasih dan penuh kesabaran.
Makanan rumah bukan dimasak untuk dihitung berapa porsi dan bisa menghasilkan berapa banyak duit hari ini, dia dimasak untuk membahagiakan orang rumah, mengisi kembali semangat untuk berkarya bagi orang lain, bukan sekedar mengisi perut.
Makanan rumah nggak ditujukan untuk memuaskan semua orang yang punya duit, dia spesifik, ditujukan hanya untuk orang-orang yang dikasihi.
Makanan rumah tidak dibungkus dengan kepalsuan, disajikan dengan kemewahan interior ruangan,pendingin/penghangat udara paling canggih, piring antik, gelas kristal, sendok emas ataupun serbet dengan kain nomer satu. Jauh, jauh dari itu, makanan rumah disajikan dengan sederhana, apa yang dipunya ya disajikan, tapi dibalik kesederhanaan itulah terdapat sesuatu yang sejati.
Makanan rumah tidak ditunggu kapan dia laku, kapan dia habis dan kapan bisa menghitung berapa lembar yang didapat hari ini. Makanan rumah ditunggu untuk diapresiasi dengan senyum dan pujian tulus, serta rasa terimakasih yang penuh syukur.
ah..aku rindu masakan rumah...Jakarta 10 Desember 2004
Kali ini aku pengen ngomong tentang makanan.
Bedanya makanan rumah, sama makanan yang ada di rumah makan, rumah makan yang di sekitar binus, tentunya.
Makanan rumah tidak dimasak dengan tergesa-gesa, tapi setiap irisan dipotong penuh kesungguhan, dimasak menggunakan bumbu kasih dan penuh kesabaran.
Makanan rumah bukan dimasak untuk dihitung berapa porsi dan bisa menghasilkan berapa banyak duit hari ini, dia dimasak untuk membahagiakan orang rumah, mengisi kembali semangat untuk berkarya bagi orang lain, bukan sekedar mengisi perut.
Makanan rumah nggak ditujukan untuk memuaskan semua orang yang punya duit, dia spesifik, ditujukan hanya untuk orang-orang yang dikasihi.
Makanan rumah tidak dibungkus dengan kepalsuan, disajikan dengan kemewahan interior ruangan,pendingin/penghangat udara paling canggih, piring antik, gelas kristal, sendok emas ataupun serbet dengan kain nomer satu. Jauh, jauh dari itu, makanan rumah disajikan dengan sederhana, apa yang dipunya ya disajikan, tapi dibalik kesederhanaan itulah terdapat sesuatu yang sejati.
Makanan rumah tidak ditunggu kapan dia laku, kapan dia habis dan kapan bisa menghitung berapa lembar yang didapat hari ini. Makanan rumah ditunggu untuk diapresiasi dengan senyum dan pujian tulus, serta rasa terimakasih yang penuh syukur.
ah..aku rindu masakan rumah...Jakarta 10 Desember 2004
Senyum dan tatapan mata itu
jakarta, desember 2004
enaknya, kalo tiap hari isinya cuman main game-makan-tidur-main game lagi
asiknya, kalo tiap hari cuman sibuk ngurusin mobil-cuci-manasin-sambil nyetel musik bedebam-bedebum
nikmatnya, kalo tiap hari cuman isinya pacaran sambil nonton film seri di kamar ber-AC, dan mungkin ML!!
bahagianya, tiap hari bisa nyanyi-genjrang-genjreng berekspresi
leganya, udah lulus kuliah tiap hari isinya tamasya-dari satu kamar ke kamar lain.
ah, nggakk !!!!
ternyata mereka stress,
bingung mau capai apa dalam hidup-kerja apa-di mana,
ternyata mereka saling dendam,
beberapa di antaranya mesti beli program skripsi yang harganya 3 juta.
ternyata disela ketawanya, mereka menenggelamkan kebingungannya,
dan mereka menjangkarkan kapasitas intelektual mereka ke dasar lautan kemewahan, kenikmatan, kemalasan, obrolan sore dan tawa penuh kepalsuan.
bukan,
bukan hak-ku untuk mewartakan itu,
di sela kemalasan, kegundahan dan ketakutanku,sendiri,
tapi aku tertarik dengan gempa dan banjir iri hati,
badai ketakutan,kemarau kreativitas,wabah kebingungan usia muda . . .
bukan,
bukan karena tiap hari aku baca kompas dan dikala sempat aku baca swa atau tempo
bukan karena aku lebih suka buku dibanding dugem, ngafe, atau karaoke.
Karna aku heran,
akan tawa dan sorot mata itu.Tadinya aku pandang rendah mereka.
Ternyata mereka lebih punya apa yang namanya, Kegigihan.
dan aku hanya bisa berandai-andai.
jakarta, desember 2004
***
Akh...,
enaknya, kalo tiap hari isinya cuman main game-makan-tidur-main game lagi
asiknya, kalo tiap hari cuman sibuk ngurusin mobil-cuci-manasin-sambil nyetel musik bedebam-bedebum
nikmatnya, kalo tiap hari cuman isinya pacaran sambil nonton film seri di kamar ber-AC, dan mungkin ML!!
bahagianya, tiap hari bisa nyanyi-genjrang-genjreng berekspresi
leganya, udah lulus kuliah tiap hari isinya tamasya-dari satu kamar ke kamar lain.
ah, nggakk !!!!
ternyata mereka stress,
bingung mau capai apa dalam hidup-kerja apa-di mana,
ternyata mereka saling dendam,
beberapa di antaranya mesti beli program skripsi yang harganya 3 juta.
ternyata disela ketawanya, mereka menenggelamkan kebingungannya,
dan mereka menjangkarkan kapasitas intelektual mereka ke dasar lautan kemewahan, kenikmatan, kemalasan, obrolan sore dan tawa penuh kepalsuan.
bukan,
bukan hak-ku untuk mewartakan itu,
di sela kemalasan, kegundahan dan ketakutanku,sendiri,
tapi aku tertarik dengan gempa dan banjir iri hati,
badai ketakutan,kemarau kreativitas,wabah kebingungan usia muda . . .
bukan,
bukan karena tiap hari aku baca kompas dan dikala sempat aku baca swa atau tempo
bukan karena aku lebih suka buku dibanding dugem, ngafe, atau karaoke.
Karna aku heran,
akan tawa dan sorot mata itu.Tadinya aku pandang rendah mereka.
Ternyata mereka lebih punya apa yang namanya, Kegigihan.
dan aku hanya bisa berandai-andai.
January 03, 2005
bagi waktu?
Aku pikir cuman segelintir orang aja yang bener-bener bisa fokus memanfaatkan waktunya, sementara sebagian besar harus bersahabat akrab dengan keluhan, bahkan statement "kok sehari cuman ada 24 jam ya?"
Aku sendiri termasuk golongan yang kedua. Meskipun beberapa sahabatku, mengkategorikan aku masuk kedalam golongan pertama. Bingung, lalu kutanya indikatornya apa, jawabnya ya karena aku kerja ini itu (skripsi, ngajar, ngedit dan bikin soal). Alamakk pikirku, betapa tidak akuratnya indikator itu.
Aku pikir bukan masalah 24 jam-nya, bukan masalah seberapa banyak kerjaan, tapi apa yang penting buat kita. Kalo kita sendiri udah bisa mendefinisikan dengan baik, mana yang penting buat kita, mana yang jadi prioritas, maka kegiatan lain akan mengalir dengan sendirinya.
Klise yah? itung-itung sedikit menghibur diri lahh...
Orang luar cuman liat, oh program skripsi nya kan udah kelar jadi skripsinya udah pasti beress lahh. Atau, wah ndok kan udah jago nulis, jadi harusnya ngedit dan bikin soal mah kecill..
Adalagi yang komentar, ala..si ndok kan udah jago persentasi...ngajar mah simplee...
Andai memang segampang itu, mungkin tiap hari aku nggak akan terbelenggu sama kerjaan. Bahkan liburan ini, bukan bener-bener liburan, karena aku masih mikirin...ya sederetan deadline, dan gado-gado kebingungan plus sambel ketakutan.
Udah tau beberapa tips biar bisa fokus sama apa yang mesti dikerjain hari ini, udah tau kalo mesti bikin planning mingguan, bulanan, bahkan taunan. Udah tau kalo mesti bikin skala prioritas. Tapi ya itu, pelaksanaannya nggak segampang itu. Aku yakin semua setuju.
Lama aku mencari jawaban, gimana cara paling bagus membagi waktu. Mulai dari baca buku, tanya orang sana-sini, toh kalo udah bisa mbagi waktu secara ideal, kita dihadapkan pada suatu hal yang lain. Motivasi buat ngelakuin jadwal ideal itu ada apa nggak?
Mata rantai itu nggak terputus sampai di situ aja, aku kembali mencari apa itu motivasi sejati. kira-kira apa ya yang bisa bikin orang itu tiap hari semangat, ulet, punya kegigihan. Kembali misi pencarian itu di mulai, dan hasilnya hampir nihil.
Lalu aku diturunkan kembali di persimpangan, aku harus memilih, aku disadarkan, aku nggak bakalan bisa memiliki semuanya, aku nggak bakalan bisa dapetin semuanya. Sementara sebagian kecil dari masyarakat ini mulai menggembor-gemborkan metode khusus untuk memprogram otak sesuai dengan yang kita mau. Artinya ya, kita akan jadi orang kayak apa, tergantung diri kita ini gimana bikin programnya, gimana kasih input yang bener setiap hari. Lagi-lagi aku harus mencari jawaban, untuk apa sih hidupku ini?
Sementara aku duduk di persimpangan dan belum memilih mana jalan yang akan aku tempuh, orang yang kebetulan lewat di persimpangan itu menasehati "bikin saja jalanmu sendiri!" Sszzp...seolah-olah aku bangun dari tidurku di persimpangan itu. Aku sadar, terlalu lama aku berhenti di persimpangan itu. Sementara orang lain tahu, yang penting mereka jalan dulu, dan bila mereka melakukan kesalahan, mereka cepat-cepat memperbaikinya. Prinsip mereka, memperbaiki kesalahan sama dengan tidak membuat kesalahan. Sedangkan aku terjebak pada idealisme semu.
Saat aku mulai membangun jalanku sendiri, segerombolan orang mengetawai, statement mereka, itu hal yang percuma. Jaman sekarang nggak bakalan bisa kita sukses sendirian. Harus ada komunitas yang punya visi bersama. Lagi-lagi kuhentikan usaha riilku, ibarat keledai, aku kembali terjatuh pada lubang yang sama. Lubang pemikiran, lubang perandaian, dan lubang idealisme.
Mantan sahabatku seolah-olah menyadarkan dan menasehati dengan teguran dan kritik kerasnya. Membuatku kembali menjunjung tinggi keseimbangan hidup yang telah lama memudar. Slogan yang dulu coba aku tularkan ke rekan-rekan kerjaku.
Aku mulai tersesat dalam buku-buku teori, self help, dan yang terakhir filsafat. Hampir semua kerjaku, kutunda. Pagi, sore, dan pagi lagi, aku mencoba berfilsafat. Kadang dengan menuliskan pemikiranku dalam bentuk narasi, kadang dalam puisi, tapi lebih sering dalam kata-kata singkat yang kuabadikan dalam whiteboard.
Aku hampir gila pikirku, aku beralih ke novel. Baru ku sadar, aku telah kehilangan alat untuk mengekspresikan emosiku. Aku kehilangan tawa tulusku. Dan aku kehilangan kepedulian sosialku.
Aku sadar, kedewasaan bukan terletak pada diri sendiri, tapi peduli terhadap orang lain. Disitulah kedewasaan yang sejati, pikirku. Kembali, aku mendayagunakan buku-bukuku untuk merebut kembali status sosialku sebagai orang yang 'peduli'.
Sementara orang-orang kembali memuji kemampuan menulisku. Ada yang bilang tulisanku bisa mengalir, mirip di kompas. Adalagi yang bilang tulisanku bukan sekedar cerita, tapi mengajak pembaca ikut mikir juga, terkadang ada juga yang terbawa dengan sisi melankolisku. Ada yang kirim email, dan sms, kala bloggerku koma 3 bulan, kangen tulisanku katanya.
Jangan salah, ada juga yang memaki dan komentar kok seolah-olah aku ini orangnya sok banget. Ada juga yang sksd setelah membaca bloggerku, seolah-olah mereka tau benar apa yang aku rasakan, dan mereka secara swadaya menganggap sebagai sahabatku, orang yang kenal dan tau benar tentang tabiatku.
Aku tersenyum, teringat pada Einstein yang mempertanyakan hakikat ilmu, deskripsi panjang lebar tentang sebuah sup, toh bukanlah rasa sup itu sendiri.
Ketakutan itu kembali mewabah, aku takut menjadi sisifus abad 21. Hampir aku berhenti menulis.
Aku takut menulis, takut berbicara banyak, dan takut berbuat kesalahan. Sungguh bukan cara yang tepat. Sampai-sampai aku mengulang lagi kesalahan itu, ternyata aku tidak mengalami kerugian berarti, justru sebaliknya. Aku sadar, takut kegagalan itu adalah buah pahit dari bobroknya sistem pendidikan di negri ini. Kreativitasku diculik, diracun. Kini aku menggugat.
Dengan jaksa penuntut umum idealisme, dan hakim agung kebijaksanaan. Diputuskan, aku harus liburan. Bertepatan dengan kebiasaan akhir taun, sembayang bareng keluarga di centrum jogja pada saat tahun baru.
Kini, hari terakhir vonis itu, besok aku bisa kembali bebas. Liar. Apa adanya.
Dan kubawa pialaku itu, piala sumber motivasi, untuk kembali ke medan pertempuran batin, dengan pena sebagai senjata utama.
Aku pikir cuman segelintir orang aja yang bener-bener bisa fokus memanfaatkan waktunya, sementara sebagian besar harus bersahabat akrab dengan keluhan, bahkan statement "kok sehari cuman ada 24 jam ya?"
Aku sendiri termasuk golongan yang kedua. Meskipun beberapa sahabatku, mengkategorikan aku masuk kedalam golongan pertama. Bingung, lalu kutanya indikatornya apa, jawabnya ya karena aku kerja ini itu (skripsi, ngajar, ngedit dan bikin soal). Alamakk pikirku, betapa tidak akuratnya indikator itu.
Aku pikir bukan masalah 24 jam-nya, bukan masalah seberapa banyak kerjaan, tapi apa yang penting buat kita. Kalo kita sendiri udah bisa mendefinisikan dengan baik, mana yang penting buat kita, mana yang jadi prioritas, maka kegiatan lain akan mengalir dengan sendirinya.
Klise yah? itung-itung sedikit menghibur diri lahh...
Orang luar cuman liat, oh program skripsi nya kan udah kelar jadi skripsinya udah pasti beress lahh. Atau, wah ndok kan udah jago nulis, jadi harusnya ngedit dan bikin soal mah kecill..
Adalagi yang komentar, ala..si ndok kan udah jago persentasi...ngajar mah simplee...
Andai memang segampang itu, mungkin tiap hari aku nggak akan terbelenggu sama kerjaan. Bahkan liburan ini, bukan bener-bener liburan, karena aku masih mikirin...ya sederetan deadline, dan gado-gado kebingungan plus sambel ketakutan.
Udah tau beberapa tips biar bisa fokus sama apa yang mesti dikerjain hari ini, udah tau kalo mesti bikin planning mingguan, bulanan, bahkan taunan. Udah tau kalo mesti bikin skala prioritas. Tapi ya itu, pelaksanaannya nggak segampang itu. Aku yakin semua setuju.
Lama aku mencari jawaban, gimana cara paling bagus membagi waktu. Mulai dari baca buku, tanya orang sana-sini, toh kalo udah bisa mbagi waktu secara ideal, kita dihadapkan pada suatu hal yang lain. Motivasi buat ngelakuin jadwal ideal itu ada apa nggak?
Mata rantai itu nggak terputus sampai di situ aja, aku kembali mencari apa itu motivasi sejati. kira-kira apa ya yang bisa bikin orang itu tiap hari semangat, ulet, punya kegigihan. Kembali misi pencarian itu di mulai, dan hasilnya hampir nihil.
Lalu aku diturunkan kembali di persimpangan, aku harus memilih, aku disadarkan, aku nggak bakalan bisa memiliki semuanya, aku nggak bakalan bisa dapetin semuanya. Sementara sebagian kecil dari masyarakat ini mulai menggembor-gemborkan metode khusus untuk memprogram otak sesuai dengan yang kita mau. Artinya ya, kita akan jadi orang kayak apa, tergantung diri kita ini gimana bikin programnya, gimana kasih input yang bener setiap hari. Lagi-lagi aku harus mencari jawaban, untuk apa sih hidupku ini?
Sementara aku duduk di persimpangan dan belum memilih mana jalan yang akan aku tempuh, orang yang kebetulan lewat di persimpangan itu menasehati "bikin saja jalanmu sendiri!" Sszzp...seolah-olah aku bangun dari tidurku di persimpangan itu. Aku sadar, terlalu lama aku berhenti di persimpangan itu. Sementara orang lain tahu, yang penting mereka jalan dulu, dan bila mereka melakukan kesalahan, mereka cepat-cepat memperbaikinya. Prinsip mereka, memperbaiki kesalahan sama dengan tidak membuat kesalahan. Sedangkan aku terjebak pada idealisme semu.
Saat aku mulai membangun jalanku sendiri, segerombolan orang mengetawai, statement mereka, itu hal yang percuma. Jaman sekarang nggak bakalan bisa kita sukses sendirian. Harus ada komunitas yang punya visi bersama. Lagi-lagi kuhentikan usaha riilku, ibarat keledai, aku kembali terjatuh pada lubang yang sama. Lubang pemikiran, lubang perandaian, dan lubang idealisme.
Mantan sahabatku seolah-olah menyadarkan dan menasehati dengan teguran dan kritik kerasnya. Membuatku kembali menjunjung tinggi keseimbangan hidup yang telah lama memudar. Slogan yang dulu coba aku tularkan ke rekan-rekan kerjaku.
Aku mulai tersesat dalam buku-buku teori, self help, dan yang terakhir filsafat. Hampir semua kerjaku, kutunda. Pagi, sore, dan pagi lagi, aku mencoba berfilsafat. Kadang dengan menuliskan pemikiranku dalam bentuk narasi, kadang dalam puisi, tapi lebih sering dalam kata-kata singkat yang kuabadikan dalam whiteboard.
Aku hampir gila pikirku, aku beralih ke novel. Baru ku sadar, aku telah kehilangan alat untuk mengekspresikan emosiku. Aku kehilangan tawa tulusku. Dan aku kehilangan kepedulian sosialku.
Aku sadar, kedewasaan bukan terletak pada diri sendiri, tapi peduli terhadap orang lain. Disitulah kedewasaan yang sejati, pikirku. Kembali, aku mendayagunakan buku-bukuku untuk merebut kembali status sosialku sebagai orang yang 'peduli'.
Sementara orang-orang kembali memuji kemampuan menulisku. Ada yang bilang tulisanku bisa mengalir, mirip di kompas. Adalagi yang bilang tulisanku bukan sekedar cerita, tapi mengajak pembaca ikut mikir juga, terkadang ada juga yang terbawa dengan sisi melankolisku. Ada yang kirim email, dan sms, kala bloggerku koma 3 bulan, kangen tulisanku katanya.
Jangan salah, ada juga yang memaki dan komentar kok seolah-olah aku ini orangnya sok banget. Ada juga yang sksd setelah membaca bloggerku, seolah-olah mereka tau benar apa yang aku rasakan, dan mereka secara swadaya menganggap sebagai sahabatku, orang yang kenal dan tau benar tentang tabiatku.
Aku tersenyum, teringat pada Einstein yang mempertanyakan hakikat ilmu, deskripsi panjang lebar tentang sebuah sup, toh bukanlah rasa sup itu sendiri.
Ketakutan itu kembali mewabah, aku takut menjadi sisifus abad 21. Hampir aku berhenti menulis.
Aku takut menulis, takut berbicara banyak, dan takut berbuat kesalahan. Sungguh bukan cara yang tepat. Sampai-sampai aku mengulang lagi kesalahan itu, ternyata aku tidak mengalami kerugian berarti, justru sebaliknya. Aku sadar, takut kegagalan itu adalah buah pahit dari bobroknya sistem pendidikan di negri ini. Kreativitasku diculik, diracun. Kini aku menggugat.
Dengan jaksa penuntut umum idealisme, dan hakim agung kebijaksanaan. Diputuskan, aku harus liburan. Bertepatan dengan kebiasaan akhir taun, sembayang bareng keluarga di centrum jogja pada saat tahun baru.
Kini, hari terakhir vonis itu, besok aku bisa kembali bebas. Liar. Apa adanya.
Dan kubawa pialaku itu, piala sumber motivasi, untuk kembali ke medan pertempuran batin, dengan pena sebagai senjata utama.
